Bagi kamu yang sedang belajar tentang fotografi tentunya tidak asing dengan istilah mirrorless dan DSLR. Tapi apa kelebihan dan kekurangan masing-masing kamera ini? Dalam edisi kamera mirrorless vs DSLR ini kita akan bahas mendalam mengenai hal ini.

DSLR, mungkin kamu sudah sangat akrab dengan nama yang satu ini. Kamera DSLR rata-rata orang Indonesia itu hampir semuanya pernah menggunakannya.

Tapi banyak yang tidak tahu bahwa DSLR itu adalah singkatan dari Digital Single Lens Reflect. Kemudian apa itu Mirrorless? Mirrorless berarti Tanpa Cermin.

Kamera Mirrorless ini menggunakan sistem yang berbeda dengan Kamera DSLR. Kalau DSLR menggunakan cermin atau mirror untuk memantulkan gambarnya, tapi kalau untuk Mirrorless itu tanpa cermin alias tidak ada cermin seperti yang ada pada DSLR untuk memantulkan hasil dari gambar.

Karena Mirrorless ini tidak memiliki cermin atau biasa disebut “mirror box”, jadi dia sangat berbeda sistem kerjanya dengan DSLR.

Kamera Mirrorless jauh lebih kecil dan bobotnya juga jauh lebih ringan dan dengan sistem kerjanya jauh lebih ringkas. kamu pasti bertanya-tanya, sebenarnya cermin seperti apa yang tidak ada pada kamera Mirrorless?

Bisa kamu lihat kalau pada Kamera DSLR itu terdapat mirror box (ada cermin kecil pada kamera), sedangkan Mirrorles tidak terdapat mirror box.

Mirrorless vs DSLR

Disitulah letak perbedaan besar antara Mirrorless dan DSLR. Jadi Mirrorless memiliki sistem kerja yang jauh lebih sederhana ketimbang dengan DSLR. Dan inilah yang menjadi perbedaan yang pertama.

Perbedaan yang kedua adalah karena tidak memiliki cermin atau mirror box, maka Kamera Mirrorless rata-rata tidak mempunyai “viewfinder” seperti yang dimiliki oleh Kamera DSLR.

viewfinder kamera dslr

Semua Kamera DSLR itu pasti ada viewfinder-nya, karena ada bantuan cermin untuk memantulkan gambar atau objek menuju mata kita supaya kita bisa melihat objek-nya.

Kalau Kamera Mirrorless tidak memiliki viewfinder, maka sistemnya langsung ditampilkan pada layar LCD.

Tapi ada beberapa jenis Kamera Mirrorless yang sudah memiliki viewfinder seperti Sony A7 S. Tapi sistem viewfinder Mirrorless berbeda dengan sistem viewfinder DSLR.

mirrorless sony

Kalau viewfender Mirrorless itu rata-rata sama halnya dengan tampilan yang ada pada layar. Jadi kalau misalnya kita ingin melihat suatu objek, maka kita harus menyalakan terlebih dahulu kamera-nya.

Kalau misalnya kita tidak menyalakan kameranya, maka kita tidak bisa melihat objek. Berbeda dengan kamera DSLR. DSLR walaupun dalam kondisi tidak menyala, kita masih tetap bisa melihat objek yang ada di depan kita.

Walaupun begitu, ada beberapa Kamera Mirrorless yang sudah menyediakan viewfinder tambahan ya atau viewfinder external untuk dipasang pada Kamera Mirrorless.

Perbedaan selanjutnya antara Mirrorless dan DSLR adalah karena Mirrorless tidak memiliki yang namanya mirror box atau cermin seperti yang dibahas tadi diatas, maka otomatis bodynya jadi lebih kecil karena ada pemangkasan jarak pada kamera (tidak ada jarak mirror box).

DSLR berbody besar karena makan jarak pada kamera akibat adanya mirror box. Inilah Kenapa akhirnya Mirrorless dibuatkan lensa yang baru dan berbeda dengan DSLR.

Karena adanya beda dudukan, dudukan yang awal seperti yang digunakan pada DSLR tidak bisa lagi dimasukkan kepada Mirrorless sehingga akhirnya diciptakan lensa yang jauh lebih kecil ketimbang lensa DSLR.

Jadi misalnya kita melihat lensa kit dari kamera DSLR itu akan lebih besar ketimbang lensa kit dari Mirrorless. Itu disebabkan karena tadi dudukan lensa yang awalnya ada pada DSLR dipengaruhi oleh adanya mirror box.

Tapi para produsen itu sudah mengakalinya supaya lensa dari dataran ini bisa masuk ke kamera Mirrorless dengan menggunakan adaptor yang sudah banyak disediakan baik itu dari produsen merek kamera tersebut ataupun dengan produsen merek-merek yang lain.

Berikutnya kita akan melihat menu-menu yang terdapat pada Kamera Mirrorless dan juga pada Kamera DSLR.

Ada beberapa menu yang tidak tersedia di Kamera Mirrorless ketimbang Kamera DSLR. Tentunya akan lebih lengkap menu-menu atau pilihan menu yang ada di Kamera DSLR ketimbang di Kamera Mirrorless.

Jadi apa beda hasil dari foto dan video antara kamera DSLR atau Mirrorless Camera?

Jadi tidak usah bertanya lagi karena sama halnya kita membandingkan antara motor matic dan motor bebek ya, dimana sama-sama motor, sama-sama bisa dikendarai dan sama-sama bisa mengantarkan kita sampai ke tujuan.

Ya… kira-kira seperti itulah perbedaannya. Tapi kalau kita berbicara soal zaman sekarang, orang akan pengen yang praktis dan pengen yang mudah dibawa kemana-mana tentu pilihan terbaiknya adalah Mirrorless Camera.

Karena sudah terlihat bagaimana besarnya DSLR Camera dan bagaimana kecilnya Mirrorless Camera dan dengan hasil foto dan video yang tidak jauh berbeda.

Tapi intinya tetap bahwa setiap orang pasti punya pilihan masing-masing. Kalau kamu adalah tipikal orang yang suka berjalan-jalan dan ingin sekali punya kamera yang praktis di bawa, berarti kamu bisa memilih kamera mirrorless.

Tapi kalau misalnya kamu merasa tidak kesulitan untuk membawa kamera yang ukuran besar disaat berjalan-jalan, ya pastinya yang terbaik adalah kamera DSLR.

Kira-kira bagusan mana kalau misalnya kita pakai kamera Mirrorless atau kamera DSLR untuk foto dan untuk video?

Kedua-duanya menghasilkan foto dan video yang bagus. Balik lagi ke individunya atau orangnya ya, jangan tergantung kepada sebuah alat/camera yang digunakan.

Jadi apapun alat/camera yang digunakan, selagi kamu bisa memanfaatkannya semaksimal mungkin maka kamu akan bisa menciptakan foto-foto yang berkelas atau video-video yang bagus.

Jadi jangan terfokus pada alat/kamera saja. Jadi jika kamu ingin punya kamera Mirrorless  yang harganya mungkin hanya berkisar 4-6 juta atau mungkin kamu ingin punya DSLR yang mungkin harganya juga tidak terlalu mahal, maka itu semua tidak menjadi masalah.

Tapi tidak lengkap rasanya kalau kita tidak bahas lebih detail perbedaannya.

Ukuran & Berat

berat kamera mirrorless dan dslr

DSLR: seringkali berukuran besar, dempal, ini akan ngebantu banget kalau pas pakai lensa tele yang panjang (dan berat).

Mirrorless: yup, secara umum mirrorless jelas akan lebih kecil, tapi kadang malah lensa-lensa untuk mirrorless juga segedhe gaban juga kayak punya DSLR

Ukurannya yang kecil adalah daya jual utama kamera mirrorless, tapi bukan berarti pada prakteknya mirrorless akan selalu lebih kecil dari DSLR. Ketika ngefoto (dan ngevideo), kita juga menggunakan lensa, nggak hanya body kamera saja.

Karena itu, terkadang ketika mirrorless Anda dikombinasikan dengan lensa yang guedhe, ya sama aja jadinya besar juga.

Problem soal ukuran lensa ini ada di semua kamera mirrorless, baik yang full frame maupun yang sensornya APS-C.

Meskipun lensa kit bawaan mirrorless relatif kecil, pasti ada aja kalanya ketika kita harus ganti lensa, dengan focal length yang panjang, terutama kalau kita udah makin niat sama fotografi. Dan, terjadilah kombinasi kamera yang kurus dengan lensa yang gendut.

Nah uniknya, sejalan dengan berjalannya waktu, dan semakin canggihnya teknologi mirrorless zaman sekarang, tahun ke tahun ukuran kamera-kamera mirrorless yang “high-end” malah tambah besar.

Lensa

lensa mirrorless

DSLR: rata-rata memiliki beragam pilihan focal length dan diafragma

Mirrorless: pilihan lensa masih bertumbuh, sepertinya segera sebanyak punya DSLR

Jika kamu ingin punya banyak pilihan lensa, maka menggunakan DSLR harusnya jadi pilihan utama, karena selain tipe yang macam-macam dari brand bawaan kamera, banyak merk 3rd party yang support DSLR (seperti Tamron, Sigma).

Meskipun mirrorless baru keluar 10 tahun lalu, dan saat ini lensa-lensa yang khusus untuk mirrorless memang belum banyak pilihannya, namun mirrorless masih mungkin menggunakan lensa-lensa DSLR dengan menggunakan adapter.

Sebaliknya, kamera DSLR tidak bisa menggunakan lensa-lensa mirrorless karena titik fokus yang terlalu jauh sehingga tidak akan pernah bisa fokus.

Namun sejalan dengan semakin hits-nya mirrorless, kita bisa berharap pilihan lensa yang lebih banyak ke depannya.

Viewfinder

mirrorless viewfinder

DSLR: masih banyak fotografer yang lebih nyaman dengan tampilan optik untuk tampilan yang lebih jelas dan bebas nge-lag.

Mirrorless: sementara yang lain malah lebih suka dengan live view versi digital yang ditampilkan di LCD.

Semua DSLR, bahkan yang paling murah, selalu dilengkapi dengan optical viewfinder karena memang itu salah satu desain yang ditawarkan oleh DSLR sejak dulu kala.

Di sisi lain meskipun ada beberapa mirrorless yang menawarkan viewfinder, namun kebanyakan mirrorless tidak.

Sehingga kamu harus menggunakan LCD di bagian belakang untuk mengkomposisi fotonya. Alhasil, terang dikit aja (atau di outdoor), maka kamu akan kesusahan live view di LCD.

Mirrorless yang menawarkan viewfinder biasanya yang agak mahalan, itupun adalah electronic viewfinder—maksudnya menampilkan apa yang diterima sensor secara langsung, tidak melalui cermin optikal.

Nah, electronic viewfinder ini kalau yang baru-baru udah nggak ada pixelation (alias kelihatan kotak-kotak) seperti mirrorless zaman awal, namun Anda masih akan menemukan kasus yang kadang agak lag ketika nggerakin kamera terlalu cepat.

Keuntungan menggunakan electronic viewfinder adalah kita bisa menerima lebih banyak informasi dibandingkan dengan optical viewfinder. Kenapa?

Karena electronic viewfinder bisa nge-simulasi-kan kira-kira hasil akhir foto kita akan seperti apa, warnanya, distorsinya, tajamnya, dll. Plus masih bisa lihat sebaran histogram secara live.

Namun, simulasi ini tidak selalu sempurna, karena itu masih banyak fotografer yang cenderung memilih pakai optical viewfinder, melihat secara apa adanya tanpa ada gangguan dari settingan kamera yang kita pilih, dan melihat hasil akhirnya kemudian.

Lagipula, dengan gini waktu kondisi terang pun kita tetap bisa melihat secara detail tanpa tergantung dengan LCD.

Autofocus

auto fokus kamera

DSLR: kalau dulu, autofocus DSLR jelas jauh lebih unggul, tapi kalau sekarang beda cerita. Secara umum, intinya autofocus pada DSLR lebih baik dalam tracking subjek kita, tapi tidak seberapa akurat saat live view.

Mirrorless: sebaliknya, live view cukup akurat saat kita melihat lewat LCD. Dan seri-seri terbaru bisa dibilang autofocusnya udah bagus-bagus semua.

DSLR rata-rata sudah menggunakan “phase-detection” dalam autofocus-nya yang ketika dipakai sangat responsive dengan pergerakan, alhasil ya rata-rata sudah sangat cepat.

Namun, kelemahannya adalah metode ini hanya bisa jalan jika cermin di dalam kamera menghadap ke bawah.

Sementara ketika Anda menggunakan live view di LCD untuk mengkomposisi (yang mana saat itu cermin menghadap ke atas), sistem ini nggak jalan. DSLR akan otomatis menggunakan sistem contrast AF yang relatif lebih lambat.

Tapi kalau Anda berniat pakai DSLR keluaran baru seperti: EOS 800D, 80D, dan 5D Mk IV, maka Anda tidak perlu begitu khawatir.

Canon memberikan inovasi baru dimana phase detection ini sudah dipasang di dalam sensor. Hal ini akan mengatasai masalah DSLR pada umumnya seperti yang dijelaskan di atas.

Sementara itu, mirrorless bergantung sepenuhnya pada sensor (tidak pakai cermin) dan rata-rata menggunakan contrast AF.

Yang perlu diperhatikan adalah contrast AF di mirrorless lebih cepat jika dibandingkan dengan contras AF di DSLR. Kok bisa gitu?

Karena lensa-lensa mirrorless udah didesain khusus supaya bisa perfom dari sisi autofocus juga.

Kalau mirrorless pakai lensa DSLR gimana? Otomatis ada penurunan kecepatan di sisi autofocus, tapi kan nggak mengurangi kualitas hasil foto :).

Berita bagus dari sisi mirrorless adalah banyak keluaran baru yang menggunakan sistem hybrid AF.

Sistem ini menggabungkan phase detection dan contrast AF. Dengan sistem ini, mirrorless baru nggak hanya cepat, tapi juga akurat dalam mengunci fokusnya.

Continous Shot

kamera shooting

DSLR: bahkan DSLR terbaik pun udah kalah cepet kalau udah ngomong speed burst mode

Mirrorless: desain mirrorless memungkinkan produsen memasangi fitur high speed burst mode

Dalam ngefoto action (alias subjek bergerak), kita pasti menggunakan burst mode agar bisa njepret banyak dan berharap beberapa ada yang fokus dan memberikan foto yang bagus. Dan di poin inilah kamera mirrorless bisa lebih unggul.

Tanpa cermin, artinya hanya sedikit part pada mirrorless yang “bergerak” untuk menghasilkan satu jepretannya, dan memungkinkan njepret lebih cepet.

Karena itulah kalau udah ngomong speed pada mode burst mode, mirrorless lebih di depan.

Beberapa mirrorless bahkan ada yang menawarkan burst speed hingga 60fps.

Yang perlu diingat di sini adalah: burst mode membantu kita mendapatkan banyak gambar ketika ada momen bagus yang lewat, tapi semakin banyak gambar yang Anda foto, semakin cepat memory penuh juga, dan Anda juga harus memilah satu persatu foto sebanyak itu untuk dapat yang “paling bagus”.

Jadi tetaplah bijak dalam melihat spesifikasi di sini 🙂

Video

camshot video

DSLR: dulu dijadikan andalan utama dalam hal video, beberapa tahun ke belakang ini mulai disalip oleh mirrorless

Mirrorless: 4K udah mulai jadi resolusi umum, AF yang terus lebih bagus – ini masa depan, guys!

Kamera DSLR adalah kamera pertama yang menawarkan resolusi profesional HD dan Full HD. Diiringi dengan luasnya pilihan lensa dan aksesoris lain, serta support yang sudah diakui, banyak profesional videografer yang memilih DSLR.

Tapi itu dulu, sebelum mirrorless hadir dengan fitur-fitur video yang gendeng.

Resolusi video 4K sudah jadi standar umum di kamera-kamera mirrorless keluaran terbaru, sementara DSLR belum beranjak dari Full HD.

Kemudian juga ada live view autofocus yang sangat efisien sekali dan hingga saat ini hanya ada di mirrorless.

Plus hal ini juga ditunjang dengan semakin banyaknya adapter dan aksesoris-aksesoris lain yang diperuntukkan kamera compact ini.

Kamera-kamera mirrorless baru seperti Panasonic Lumix GH5 dan Sony A7S II bahkan disukai oleh baik fotografer maupun videografer profesional.

Fitur

mirrorless canon

DSLR: bahkan DSLR yang entry level sudah lengkap dengan full manual control

Mirrorless: belakangan ini mulai mengimbangi DSLR dalam hal kontrol, bahkan di beberapa seri selangkah dua langkap lebih maju

Dalam hal fitur fotografi dan kontrol, sulit membedakan DSLR dan mirrorless.

Keduanya menawarkan manual kontrol yang sudah canggih, exposure, kecepatan fokus, dan juga sama-sama bisa memotret dalam format RAW dan JPEG, memungkinkan kita semua mendapatkan hasil yang bagus terlepas mau pakai yang mana saja.

Namun terus ingat tentang viewfinder ya — semua DSLR memiliki viewfinder, namun mirrorless yang relatif “hemat” cenderung tidak punya.

Kualitas Gambar

kualitas gambar mirrorless murah

DSLR: menggunakan teknologi terbaru dan the best baik untuk sensor APS-C maupun Full Frame mereka

Mirrorless: menggunakan sensor yang sama, tapi beberapa seri menggunakan format yang lebih kecil

Nggak ada yang bisa dipilih di sini. Memang benar bahwa resolusi terbesar pada DSLR, Canon EOS 5D bisa memotret full frame dan masih di resolusi 50MP. Sementara Sony A7R III sebenarnya nggak jauh-jauh juga dengan resolusi 42.2 MP-nya.

Kualitas gambar bukan soal megapixel aja tentunya ya kan?

Karena faktor utama dalam hal kualitas gambar ada pada ukuran sensor. Sensor full frame adalah sensor dengan ukuran terbesar (saat ini) dan menawarkan kualitas terbaik, namun sensor APS-C juga sudah cukup bagus dan lebih murah.

Kamu bisa mendapatkan kedua jenis sensor tersebut baik di DSLR maupun mirrorless.

Yang perlu diingat adalah masih ada beberapa mirrorless di pasaran yang sensornya menggunakan micro 4/3 (lebih kecil dari APS-C).

Kamera dengan sensor lebih kecil memang cenderung memiliki ukuran bodi dan lensa yang lebih kecil. Karena itu putuskan kembali mana yang lebih penting bagi kamu, ukuran atau kualitas gambar.

Ketahanan Baterai

baterai kamera

DSLR: rata-rata tahan sampai 600-800 jepretan, seri yang bagusan bisa sampai 1000 jepretan

Mirrorless: rata-rata baterainya lebih cepat habis, kuat hingga 300-400 jepretan. Pastikan ada baterai cadangan

Ngebahas soal perbandingan baterai emang nggak asyik ya? Tapi jadi penting banget kalau perbedaanya sangat kerasa seperti kasus DSLR vs mirrorless ini.

Sebagai contoh, Nikon D7500 bisa dipakai njepret hingga 950 foto dalam sekali charge, sementara Fujifilm X-T2 (yang speks nya nggak jauh-jauh juga) hanya bisa tahan sampai 340 foto sebelum akhirnya baterai habis. Pola yang sama akan terjadi di semua pebandingan DSLR dan mirrorless lainnya.

Masih belum jelas kenapa, tapi secara fisik memang baterai DSLR ukurannya seringkali lebih besar.

Beberapa dari kita mungkin Anda yang kepo “Kan menggerakkan cermin butuh daya lebih besar?” Atau “LCD terus nyala kan otomatis cepet ngabisin baterai…”. Namun, sepertinya bukan karena itu alasannya.

Yang jelas dalam soal baterai ini, DSLR memang memiliki ketahanan baterai yang lebih baik dan siap-siaplah membeli baterai cadangan jika menggunakan mirrorless.

Harga

harga kamera dslr canon

DSLR: beli DSLR murah seringkali dirasa lebih worthy daripada beli mirrorless murah

Mirrorless: Mirrorless hemat nggak punya viewfinder; yang ada viewfinder-nya cenderung lebih mahal

Anda mungkin berharap bahwa mirrorless sebagai kamera yang lebih kecil dan lebih simple jatuhnya akan lebih murah. Tapi faktanya nggak gitu juga kok.

Karena misalnya sekarang, kamera DSLR Canon seri tiga digit seperti EOS 750D harganya juga hampir sama dengan Sony A6000.

Sama-sama APS-C, sama-sama ada viewfinder (meskipun satunya EVF) dan spesifikasi relatif memper nggak beda jauh. Itupun dengan baterai 750D yang lebih tahan dan ukuran A6000 yang lebih kecil.

Tapi dari sisi harga, hampir sama (8jutaan).

Memang secara harga, baru akhir-akhir ini saja mulai sama, mengikuti spesifikasi mirrorless yang terus berkembang maka harganya juga berangsur-angsur lebih mahal setiap keluar model baru.

Makin pusing setelah baca artikel di atas? 🙂

Tapi ingat yang terpenting adalah tergantung cara bagaimana kamu menggunakan kamera tersebut. So komen di bawah apa pilihan kameramu?

sumber 1, sumber 2

Author

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: