Pengembangan Diri

3 Rumus Cara Berkomunikasi Yang Baik Dengan Pasangan. Langsung Ngefek!

Pinterest LinkedIn Tumblr

Cara berkomunikasi yang baik dan benar dengan pasangan akan memberikan keintiman dan keterbukaan. Pada banyak kasus, banyak diantara mereka menjadi salah paham ketika berkomunikasi karena nanya apa di jawab apa. Sound familiar?

Jangan-jangan kamu sedang mengalami masalah ini juga. 😉

Teknik berkomunikasi yang paling dasar adalah cara bertanya. Cara bertanya akan menentukan seberapa dalam dan detail jawaban yang akan kamu terima. Nah gimana caranya bertanya dengan efektif? Ikuti langkah praktis berikut ini.

Smart lovers, kamu mau lebih mudah bertanya dan menerima jawaban yang jelas, detil, sesuai kebutuhan?

Kita sudah sering dengar pepatah, “Malu bertanya, sesat di jalan.” itu benar sekali, tapi menurut saya kurang lengkap.. karena keliru bertanya pun tidak guna dan keliru juga jawabannya.

Penting banget bisa merumuskan pertanyaan yang baik saat ngobrol sama pasangan atau teman, buka diskusi dengan random strangers di internet, rekan kerja, apalagi bertanya dengan para senior atau ahli.

Ingat karena jika keliru menjelaskan dan menanyakan, maka kamu akan mendapat jawaban yang keliru juga.

contoh ercakapan komunikasi yang baik

Jadi silakan melatih diri dengan format bertanya ini:

Bagian 1:

[DESKRIPSIKAN SITUASI YANG BERMASALAH/MENGGANGGU]

Ini biasanya Laporan Eksternal, yaitu berbagai penjabaran latar belakang keadaan, detil perilaku, atau urutan kejadiannya.

Disebut eksternal karena ini adalah hal-hal yang bisa dilihat oleh panca indera atau tertangkap oleh kamera video, alias terjadi di luar diri penanya.

Bagian pertama ini hanya berisi kalimat berita dan pengamatan saja, tidak ada pertanyaan sama sekali.

Bagian 2:

[UNGKAPKAN EVALUASI PEMIKIRAN/KEBINGUNGAN]

Ini biasanya Laporan Internal, alias berbagai keluhan, perasaan, anggapan, penilaian, argumentasi, perspektif, keraguan, analisa, pertentangan yang dialami penanya tentang orang lain atau keadaan di luar.

Disebut internal karena hal-hal ini terjadi di dalam diri penanya, tidak bisa tertangkap panca indera ataupun kamera video.

Selain berisi laporan di atas, bagian kedua ini bisa berisi pertanyaan-pertanyaan kecil dan reflektif, seperti:

  • “Apa salah aku sampe dia ngomong gitu?”
  • “Mana ada sih orang yang mau digituin?”
  • “Aku kayaknya ga berlebihan deh, bener ga?”
  • “Emang kita udah separah itu yah?”
  • “Kenapa dia engga ngasih tau dari awal?”, “Ini engga wajar, iya kan?”

Bagian 3:

TANYAKAN HASIL/TUJUAN YANG DIINGINKAN]

Ini biasanya pertanyaan Apa, Kenapa, dan Bagaimana yang dikaitkan pada ekspektasi, goal, obyektif tertentu.

Dikaitkan maksudnya ada penjelasan target kondisi yang diharapkan oleh penanya, agar lawan bicara bisa membantu spesifik ke arah tersebut, misalnya:

  1. Pertanyaan, “Apa yang harus aku lakukan?” tidak sejelas, “Apa yang harus aku lakukan supaya orangtua mau menyetujui hubungan kami?”
  2. Pertanyaan, “Kenapa perasaan aku jadi hilang?” tidak sejelas, “Kenapa perasaan aku jadi hilang? Aku mau bisa merasa sayang lagi, seperti awal hubungan dulu.”
  3. Pertanyaan, “Bagaimana cara ngadepin dia yang lagi emosi?” tidak sejelas, “Bagaimana cara ngadepin dia yang lagi emosi, supaya kita jadi bisa ngomong baik-baik dan nemuin solusinya?”

Jika disingkat: DESKRIPSI + EVALUASI + EKSPEKTASI

Ini bukan satu-satunya cara bertanya ataupun cara bertanya yang paling benar.

Ini merupakan cara bertanya yang paling bermanfaat bagi sang penanya dan bagi orang-orang yang berusaha membantu / lawan bicara kita / pasangan kita.

Ketika ketiganya terlengkapi, kita jadi punya cukup informasi untuk memahami, menganalisa, dan merangkai bantuan yang tepat

Supaya terbayang aplikasi nyata, berikut saya beri tiga buah contoh CARA BERTANYA pada tiga buah kasus berbeda.

CONTOH 1: KASUS KOMUNIKASI

Deskripsi: “Sudah dua hari ini dia menghilang tidak balas chat sama sekali, aku telpon pun engga diangkat. Sebelumnya kita memang ada bertengkar kecil, kayaknya dia masih kesel sama aku.”

+

Evaluasi: “Aku jadi engga ngerti mesti gimana lagi, karena aku sudah minta maaf waktu di pertengkaran pertama. Di chat juga aku udah ngalah dan bilang maaf lagi. Masa aku terus yang perlu kejar-kejar dia? Kan dia ada salahnya juga di kejadian itu, bukan aku saja.”

+

Ekspektasi: “Apa yang bisa aku lakukan sekarang ya supaya kita jadi bisa buka ngomongan lagi? Karena diem-diem’an begini terus kan engga sehat.. aku engga mau jalanin pacar-pacaran kayak anak kecil.”

CONTOH 2: KASUS RUMAH TANGGA

Deskripsi: “Mertua banyak ikut campur keputusan rumah tangga kami, anaknya juga kayak nurut-nurut aja. Malah dia lebih banyak diskusi duluan sama mamanya daripada sama aku, sampai anak kayaknya dibikin lebih nempel sama neneknya daripada sama papanya.”

+

Evaluasi: “Ini bikin aku merasa engga dihargai, baik sama istriku ataupun sama mertua. Mertua tinggal nebeng di rumah aku, tapi kayak pengen ngatur semua-muanya. Dia bebas naro barang apa aja di meja kerjaku, sementara aku perlu minta izin kalau mau ngegeser barang dia? Aneh banget ga sih?”

+

Ekspektasi: “Bagaimana aku mestinya bersikap, supaya mertua engga makin semena-mena begitu? Apakah aku perlu marah atau ngalah aja? Takutnya dia makin menggurita take over keluarga kami. Aku mau aku dan istri jadi raja dan ratu di rumah tangga kami, bukannya malah tunduk sama si Ratu Tua.”

CONTOH 3: KASUS MOVE ON

Deskripsi: “Sejak seminggu ini aku sudah membatasi diri dari mantan. Aku blok medsos, tapi whatsapp engga karena ada urusan kerjaan. Di kantor juga cuma interaksi sebatas proyek bareng. Dia berusaha ajak ngobrol panjang sih, tapi akunya jawab pendek aja, trus bilang sibuk mau nyelesain pekerjaan.”

+

Evaluasi: “Aku bisa nerusin begini sih, tapi jujur susah banget. Di satu sisi aku kangen, dan berasa jahat berlaku begitu. Di sisi lain aku bangga juga akhirnya bisa tegas sama diri sendiri, sesuatu yang aku ga bisa lakuin selama dua tahun pacaran dulu. Aku merasa hebat, tapi kadang merasa takut suatu saat ga kuat karena tiap hari ketemu. Khawatir tergoda lagi kalau dia bujuk-bujuk kaku balikan. Aku konflik gitu, apa emang mesti begini ya untuk bisa move on?”

+

Ekspektasi: “Gimana caranya supaya aku jadi tetep kuat, engga lemah, engga merasa guilty juga? Pengen banget bisa santai ketawa-ketawa lagi, aku bisa ke sana ga sih? Apakah harus pindah kantor supaya aku lebih lega?”

Tidak sesulit bayangan kamu ‘kan?

Ini simpel kok, cuma menyusun rapih apa yang ada dalam kepala kita, supaya bukan cuma kita saja yang paham apa yang terjadi dan apa yang kita inginkan, lawan bicara kita juga bisa paham sefrekuensi.

Deskripsikan gangguannya, evaluasi pemikirannya, dan tanyakan target tujuannya.

Semakin panjang dan detil dijabarkan, semakin kaya informasinya.

cara bicara yang baik

Tidak jarang kita malah jadi menemukan sendiri solusi yang terbaik, SETELAH kita memetakan masalah dan target tujuan seperti di atas.

Lawan bicara kita belum sempat berkomentar apa-apa, tetiba otak kita menelurkan sejumlah ide langkah-langkah untuk meraih tujuan.

Kenapa bisa begitu?

Karena proses di atas itu seperti MENYETRIKA kekusutan masalah yang ada di kepala kita.

Setelah semua benang kusut itu tertata rapih, mendadak kita jadi bisa jelas melihat apa yang harus dilakukan dan bagaimana melangkah ke sana.

Saya yakin kamu pasti pernah mengalami begitu.

Tentu urutan cara bertanya tidak harus D-E-E begitu, boleh dibolak-balik kok, boleh juga maju-mundur menambah informasi di sana-sini.

Yang tidak boleh adalah mempersingkat kasus atau menulis pertanyaan pendek.

Ketika kita bertanya sependek-pendeknya, itu akan membuka celah berikut:

  1. Keliru interpretasi dan analisa masalah.
  2. Menggeser atau mengubah fokus pertanyaan.
  3. Memancing jawaban yang meleset atau mengambang.

Berikut adalah delapan cara bertanya yang PERLU DIHINDARI, berdasarkan tiga kasus di atas:

GIMANA YA

  • “Pasanganku cuek, ga bisa dihubungin berhari-hari. Gimana ya?”
  • “Gimana kalo mertua banyak ngatur dan istri juga nurutin dia mulu?”
  • “Udah jaga jarak tapi masih sekantor sama mantan, mesti gimana?”

APA PENDAPATMU TENTANG

  • “Apa pendapat kamu tentang pasangan yang ngambekan?”
  • “Istri lebih prioritasin keluarganya daripada pasangan, what do you think?”
  • “Minta pendapat dong soal balikan sama mantan sekantor?”

NAMANYA APA

  • “Bilangnya mau serius tapi ga ada kabar berhari-hari, itu namanya apa?”
  • “Kalau istri lebih mentingin mamanya, itu disebut anak mami ya?”
  • “Aku merasa bersalah ngediemin mantan, apa aku dibilang engga bisa move on?”

WAJAR ATAU TIDAK

  • “Wajar ga sih hilang komunikasi total selama dua hari?”
  • “Kalau masa bodo sama mertua yang banyak ngatur, boleh ga ya?”
  • “Benar atau salah sih ngeblok mantan supaya ga tergoda lagi?”

APA BEDANYA

  • “Apa bedanya ngambek dan menenangkan diri?”
  • “Gimana ngebedain mertua control freak dan mertua sentimen?”
  • “Kita tahu dari mana lagi menyayangi diri atau lagi memaksakan diri?”

GIMANA MENGHADAPI

  • “Gimana menghadapi pasangan yang nutup komunikasi?”
  • “Mertua bertingkah penguasa, sebaiknya dihadapi seperti apa?”
  • “Aku bingung cara menghadapi mantan yang ngerayu-rayu terus?”

A ATAU B

  • “Pasangan ghosting. Bertahan atau bubar aja?”
  • “Istri harusnya berpihak ke ibunya atau suaminya?”
  • “Kalo masih kangen, baiknya balikan atau move on?”

APA MAKSUDNYA

  • “Dia ga bales chat, ga mau angkat telpon. Apa maksudnya ya?”
  • “Kenapa istri dan mertua bersekongkol ga ngehargain aku?”
  • “Mantan ngajak ngobrol terus, maunya apa sih?”

Saya percaya kualitas jawaban yang kita terima sangat tergantung dari kualitas pertanyaan yang kita ajukan.

berkomunikasi yang efektif

Semakin kita singkat pendek kasusnya, semakin kita tanpa sadar melenceng keluar dari permasalahannya, dan semakin besar juga kemungkinan kita terima jawaban yang tidak bantu kita kemana-mana, malah bikin kita tambah muter kusut.

Oh ya, seringkali ada kejadian begini juga: kita sudah susun Deskripsi dan Evaluasi yang panjang, tapi kemudian pendek atau tidak jelas Ekspektasi pertanyaannya.

Hati-hati jangan tergelincir di sini. Coba kamu cek tulisan di bawah ini:

DESKRIPSI:

Sudah 1,5 tahun dia menikah. Namun, dia tidak bahagia dengan pernikahannya. Dia pernah cerita, dia menikah demi untuk membahagiakan orangtua.

Dia sudah berusaha mencintai istrinya, namun tetap tidak bisa, cintanya tetap ke aku.

Sebenarnya, istrinya baik. Masalahnya cuma dua, tidak cinta dan enggak nyambung diajak ngobrol. Beda sama aku, sudah cinta, nyambung diajak ngobrol juga.

EVALUASI:

Aku sudah bilang berulang kali, cintai orang yang sudah kamu nikahi. Bagaimana pun, dia istri sahmu. Kamu sudah bersaksi dihadapan Tuhan. Itu pilihanmu. Jangan hubungi aku lagi, karena kita sudah tidak ada hubungan apa-apa.

Istrinya minta untuk memblokir nomor suaminya. Masalahnya, meski aku blokir, dia tetap bisa menghubungiku dengan nomor lain dan aplikasi lain. Aku pernah blokir FB nya, dia kirim pesan via wa. Aku blokir wa nya, dia hubungi aku pakai Duo.

EKSPEKTASI:

Seharusnya kan kalau emang cintanya sama aku, ya udah tinggal cerain istrinya.

Kalau ingin bahagiakan orangtua, ya sudah enggak usah hubungi aku lagi. Selesai!

Yang jadi rumit itu, istrinya sudah tahu aku siapa, suaminya masih hubungi aku dan istrinya minta aku blokir nomor suaminya.
Suaminya yang bermasalah, kenapa jadi aku yang repot?

Yang salah kan bukan aku, kenapa aku yang harus blokir suaminya. Yang salah kan suaminya, sudah nikah, punya istri, malah cintanya sama mantannya. Ini kan koplak ya?

Sebenarnya, aku pengen ketemu langsung sama suami dan istrinya. Mau aku jelasin dan closing statement biar sama-sama enak.

Masalahnya, sekarang lagi ada pandemi, aku enggak bisa balik Jakarta. Aku bingung, harus gimana?

Stop sebentar sampai di sini…!

Ingat-ingat deh seberapa sering kamu menggunakan delapan format tidak jelas seperti di atas.

Perhatikan cara kamu bertanya ke pasangan selama ini.

Jangan terkejut menyadari kamu kini masih gagal dan tersesat BUKAN karena tidak/malu bertanya atau tidak ada orang yang bisa membantu, tapi karena kamu keliru memetakan masalah dan memformulasikan pertanyaan yang sesuai dengan kebutuhan..

Kira-kira menurut kalian sebagai pembaca, apa yang kurang dari cerita di atas?

Ya…!!

Kita sulit menemukan ekspektasi (yang utama) dari orang ini. Dia menceritakan ketidakjelasan perilaku pria tersebut, tanpa menceritakan jelas apa yang sebenarnya dia inginkan.

Yuk kita gali bersama, bagaimana kita juga bisa belajar mengungkapkan ekspektasi kita / maunya kita dengan benar. Saya ubah formatnya seperti sesi tanya jawab agar mudah dicerna. Silakan klik di sini untuk membacanya.

Kita lanjutkan sedikit lagi materinya.

Sadarkah bahwa kita sebenarnya belum pernah benar-benar belajar atau diajarkan cara untuk bertanya?

komunikasi yg baik harus dilatih dari kecil

Sejak usia TK sampai lulus kuliah, kita dilatih menghapal informasi dan solusi, tapi tidak dilatih bertanya.

Bukan di sekolah saja, di keluarga pun kita seolah dilarang bertanya dan mempertanyakan karena itu dianggap bodoh, tidak sopan, menyinggung, ataupun memberontak.

Padahal sewaktu usia 2-5 tahun, kita umumnya gemar dan gencar sekali bertanya.

Sebuah studi mencatat estimasi anak bertanya sekitar 70-80 pertanyaan per jam, bahkan ada studi yang menemukan hingga 105 pertanyaan per jam.

Bertanya adalah cara alami kita mencerna dunia sekitar dan mengasah keterampilan hidup.

Ketika masuk sekolah, proses belajar alami itu justru disunat massal; anak yang bertanya sering diledek norak, caper, atau mengganggu pelajaran.

Ketika tumbuh jadi remaja dan dewasa muda, orangtua pun rajin memelintir kebiasaan anak bertanya itu hingga terkunci total hingga jadi hanya tersisa kebiasaan menuruti dan mempercayai.

Dalam sebuah studi terhadap proses belajar-mengajar selama 10 menit di 27 kelas dari 6 sekolah berbeda, pertanyaan hanya muncul dari 11 orang murid saja.

2 pertanyaan per jam

Luar biasa

Itu terjadi di negara maju.

Apalagi di negara berflower?

Itu sebabnya saya sering merasa geram dengan betapa minimnya interupsi pertanyaan ketika sharing dan mengajar.

Saya lebih menikmati diganggu, diselak oleh dialog bertanya.

Sayangnya mayoritas audiens sepertinya tidak sedang mencerna; mereka hanya:

  1. Berusaha menghapal materi
  2. Mengumpulkan konfirmasi yang sesuai dengan ekspektasi
  3. Memindai kalimat bijak keren, dan
  4. Merangkum inti-intinya.

Ketika diberi waktu sesi Q&A secara terpisah pun, tidak banyak orang yang berani memanfaatkannya;

Yang nanya biasanya terbatas segelintir orang yang itu-itu saja.

Sudah begitu pun, seringkali sang penanya kesulitan merangkai pertanyaan yang berkualitas, bermanfaat bagi dirinya… misalnya, tidak sinkron antara apa yang dia inginkan dan apa yang dia tanyakan.

Saya selalu percaya kualitas jawaban yang kita terima tergantung dari kualitas pertanyaan yang kita ajukan.

Dalam jangka panjangnya, kualitas hidup kita tergantung dari (kualitas) pertanyaan-pertanyaan yang kita formulasikan dan fokuskan.

Yuk mulai sekarang belajar bertanya dengan baik.. untuk memperbaiki penyunatan/penyumbatan yang kita alami semasa kecil dan sekolah dulu.


Contoh kasus dalam mengungkapkan pertanyaan:

Iip: Aku bingung, harus gimana?

Lex: Untuk mulai mencari opsi solusi, kita perlu tahu dulu maunya kamu yang mana, Iip ..

Sudah cukup jelas deskripsi dan evaluasinya, terima kasih, Namun saya pribadi masih sulit menemukan ekspektasi kamu yang utama.

Kamu menceritakan ketidakjelasan perilaku pria tersebut, tanpa menceritakan jelas apa yang sebenarnya kamu inginkan.

  • Apakah dia targetnya mau dinikahi oleh pria itu?
  • Apakah kamu targetnya mau dinikahi oleh pria itu?
  • Apakah kamu targetnya mau dia berhenti mengganggu kamu?
  • Apakah kamu targetnya mau bantu menyadarkan dia?
  • Apakah kamu targetnya mau bersahabat dengan pria itu?
  • Apakah kamu targetnya mau bikin klarifikasi closing statement?
  • Apakah kamu targetnya mau hidup santai enak?
  • Apakah kamu targetnya mau hidup repot?

Saya masih gagal paham kamu mau yang mana, jadi sulit mengomentari apa-apa. karena target itu sangat menentukan strategi yang akan kita diskusikan dan berbagai opsi langkah yang bisa kamu pilih.

Apa yang kamu tuliskan di awal itu baru DESKRIPSI dan EVALUASI.. belum ada EKSPEKTASI-nya.

Jangan sedih atau kesal, Iip .. karena ini memang kekusutan yang umum dialami orang. Kita sering tersesat dalam polemik masalah di depan mata dan keluhan-keluhan hati sendiri, sampai-sampai kita lupa (atau bahkan tidak tahu) apa yang sebenarnya kita inginkan.

Analoginya, kayak kita keliling muter-muterin foodcourt pas jam makan siang, susah milih makan apa karena melihat antrian panjang di mana-mana dan pusing susah nyari meja kosong.

Kita berasa kesel ngabisin waktu lama, kesel karena udah laper banget, kesel liat orang-orang yang udah enak makan ketawa-ketawa, kesel liat dua orang duduk di meja untuk empat atau enam orang, kesel liat pelayanan kasir yang lambat ga efektif, kesel sama AC yang kurang dingin, dsb.

Kita sibuk ngeliatin keadaan dan nganalisa segala sesuatu yang salah/mengganggu.. namun kita sendiri belum nentuin sebenarnya mau makan apa.

Iip: 

Mau bersahabat kayak mantanku yang lain.

Mantanku yang lain asyik-asyik aja bersahabat sama aku. Malah istrinya pernah nitipin suaminya ke aku, minta tolong buat nemani cari motor.

Kalau mau bersahabat silakan, asal bisa pastikan istrinya enggak cemburu sama aku dan berlakulah layaknya teman. Jangan ngaku teman tapi tetap mengganggap aku seperti pacarnya. Ya kan istrinya pasti cemburu. Kasihan.

Kalau enggak bisa seperti itu, ya jangan hubungi aku. Kan enggak ada kepentingan juga. Udah sih gitu aja pengennya.

Lex: Oke, kamu mau kamu bersahabat dengannya sama seperti kamu bersahabat dengan mantan-mantan yang lain.

Kalau dia dan istrinya tidak ma(mp)u bersikap bersahabat juga, apakah kamu tetap ngotot dan memaksakan kehendak untuk bersahabat dengan mereka?

Iip: Engga

Lex: Oke, kamu engga mau memaksakan kehendak bersahabat dengan mereka kalau dia dan istrinya tidak ma(mp)u bersahabat.

Jadi apa saja yang bisa kamu lakukan untuk menghentikan persahabatan atau menjauhkan diri dari mereka, Iip?

Iip: Sebenarnya keinginanku ini sudah disampaikan via pesan teks tapi tidak digubris.

Makanya, aku pengen ketemu langsung, biar sama-sama enak. Mungkin, dengan ketemu langsung dia bisa menerima dan selesai.

Kalau sudah ketemu langsung tapi tidak ngefek juga, aku enggak tahu harus gimana.

Diblok sudah, ganti nomor sudah, tidak meladeni juga sudah.

Dia tanya kapan aku ke Jakarta? Aku bilang, kalau pandemi sudah usai atau ada keperluan penting lain yang mengharuskan aku ke Jakarta.

Lex: Menurut kamu mana yang paling minim investasi:

A/ Ngatur waktu ketemu mereka untuk berusaha menjelaskan dan ngotot membantu urusan hubungan mereka?

atau

B/ Blok lagi. Dia pake nomor lain, blok lagi. dia pake nomor lain, blok lagi. terus aja begitu, ga perlu pake mikir.

Kalau saya berada di posisi itu, saya merasa B lebih murah. saya ga cape, ga buang waktu, ga ngurusin masalah mereka, ga maksain dia ngerti, dsb. cuma klik blok, berulang kali.

Sama kayak telemarketer yang telpon nawarin kartu kredit, saya tolak dan blok otomatis aja ga pake mikir, ga sempet merasa apa-apa. Paling sebel 1-3 detik, tapi abis itu udah lupa karena asyik ngerjain yang lain.

Mengingat selama ini mereka tidak ma(mp)u bersikap baik sama kamu, apakah masih layak kamu investasikan waktu-tenaga untuk ketemu mereka dan memaksa mereka menghargai permintaan kamu?

Kalau iya menurut kamu worth it sih gapapa, cuma ya jangan kesal dengan hasilnya.. kan kamu sendiri yang terus meladeni dan melayani mereka.


Cukup sekian artikel kali ini. Semoga bermanfaat dan dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari.

Jangan lupa untuk klik tombol “Share” agar pasanganmu atau temanmu bisa sama-sama belajar meningkatkan kualitas diri.

Sumber

Write A Comment